Toko Cahaya Makmur
ITC
FATMAWATI, LT.2 NO.45 JL. RS. FATMAWATI NO. 39 JAKARTA SELATAN
Create by Priska Dwi Cahya, CopyRight @2008
"DILARANG KERAS MENG-COPY ATAU MERUBAH SITE INI, APABILA HAL ITU TERJADI MAKA AKAN DIKENAKAN SANKSI YANG TEGAS"
BINGKAT FOTO KAMERA DIGITAL
Dengan harga sekitar $80 Cenomax F7024B terkesan cukup murah untuk sebuah bingkai foto digital. Adapun besar layarnya adalah 7" dan dapat digunakan untuk menampilkan gambar dan video dalam format widescreen. Terintegerasi juga didalamnya speaker kecil untuk memutar file mp3.

Cenomax memiliki fitur yang lumayan canggih, yaitu dapat memutar gambar sesuai dengan orientasi dari bingkai tersebut, apakah itu portrait atau landscape. Sangat disayangkan, resolusi yang ada hanyalah 480x234. Yang tentu saja gambar yang ditampilkan menjadi tidak terlalu bagus

Kita dapat mengganti bingkai yang ada, dengan mengambil plastik bening yang ada disekeliling LCDnya dan memasukkan kertas yang berisi patern yang kita inginkan (telah disertakan). Cenomax dapat membaca memori CF, MMC, MS, SD dan xD dan memiliki port usb 2.0 yang dapat digunakan untuk membaca flashdisk
KAMERA DIGITAL SUPER ZOOM"
Fujifilm mengumumkan perilisan kamera digital 8 megapixelnya yang bernama "Finepix s8000fd" dengan lensa 18x optical zoom dan lensa 3x digital zoom di pasar Jepang. Kamera super zoom ini memiliki focal range antara 27 hingga 486 mm !! Dengan lensa seperti itu, anda dapat mengambil foto mulai dari landscape yang lebar hingga memotret burung yang terbang di langit secara closeup !
Ditambah lagi dengan fitur face detection atau pengenalan wajah, jadi dia akan otomatis fokus pada bentuk wajah manusia yang dikenali (sebagai wajah tentunya). S8000fd memiliki layar 2.5 inchi dan menggunakan 4 buah baterai AA

Pilihan Makin Banyak, Harga Tambah Murah"
JAKARTA – Popularitas kamera digital terus menanjak. Perkembangan ini seolah menjawab kemauan banyak orang yang mulai menerima pergeseran teknologi dalam dunia fotografi ini. Terlebih para produsen selalu menambah kemajuan terbaru dalam barang dagangannya. Beragam pilihan kamera digital memenuhi etalase toko dan harga pun makin murah.
Indonesia adalah salah satu pasar yang diincar para produsen kamera digital. Jumlah penduduk yang besar dan daya serap pasar yang terus tumbuh membuat produsen tak berani menyepelekan potensi negara ini. Apalagi, orang-orang di sini makin paham betapa pentingnya peralihan teknologi dalam dunia fotografi itu.
Hendro Ginting, Customer Relation Officer Oktagon – pu-sat penjualan peralatan fotografi di bilangan Gunung Sahari, Jakarta Pusat mengatakan, secara obyektif penjualan terbanyak kamera digital di Indonesia saat ini dipegang merek Canon. Faktor teknologi yang diusung kamera digital ini menjadi salah satu alasan.
Di belakangnya, Olympus terlihat sudah mulai menanjak. Selain karena gencarnya promosi yang dilakukan, orang sudah mulai banyak yang menyukai hasil fotonya. Nikon yang juga merupakan pemain lama di pasar kamera berada di posisi kedua atau ketiga. “Posisi Nikon saling menggantikan dengan Olympus,” ungkap Hendro.
Posisi keempat dipegang Minolta bersama Pentax.
Menurut Hendro, teknologi Nikon dalam kamera digital jauh tertinggal ketimbang kompetitor lain. Misalnya, pada kamera digital Nikon banyak ditemukan noise. Ini merupakan gangguan yang terlihat setelah hasil jepretan dicetak dalam kertas foto. “Setelah dicetak, hasilnya banyak bintik-bintik merah kemudian di pembesarannya pun kalah dengan Canon,” jelas Hendro serius.
Meski begitu, penjualan Nikon tidak terlalu drop. Pasalnya, merek asal Jepang ini tetap tegar lantaran ditopang oleh brand yang kuat di pasar. Sejak lama Nikon memang sudah dikenal sebagai salah satu produsen yang bagus untuk kamera berikut lensa.
Peringkat penjualan kamera digital untuk masing-masing wilayah tidaklah sama. Kendati Minolta hanya menduduki peringkat empat di Indonesia, penjualan Minolta di Eropa nomor satu bersama-sama Canon, demikian pula di Amerika Serikat.
Menurut Hendro, bisnis penjualan kamera digital di Indonesia diwarnai persaingan bisnis tidak sehat. Tak hanya di level pengecer yang saling membanting harga, di level distributor pun demikian. Pada akhirnya Oktagon yang berperan sebagai pengecer kadang-kadang mengalami kesulitan barang karena ada pihak-pihak yang menahan barang dengan tujuan harga akan naik.
Saat ini, lanjut Hendro, pasar kamera digital sudah hampir sama dengan handphone - di mana ketika ada produk baru, harga produk lama akan turun. Misalnya, “Tahun 2003, kita jual Minolta Xi seharga Rp 4,1 juta. Selang beberapa bulan keluar seri Xt dengan harga Rp 3,8 juta. Akibatnya, harga Minolta Xi anjlok menjadi Rp 3,6 juta,” ungkap Hendro memberi contoh.
Berbeda dengan purna jual dan service handphone di Indonesia yang relatif sudah ada di mana-mana, kelemahan di pasar kamera digital justru ada pada dua hal tersebut. Garansi memang diberikan, namun berapa lama waktunya. Rata-rata kamera digital hanya bergaransi satu tahun berdasarkan usia ekonomisnya. Setelah satu tahun penggunaan biasanya dijumpai kerusakan di sana-sini pada kamera digital.
Untuk negara kita belum ada teknisi yang sanggup memperbaiki kerusakan kamera digital. Kebanyakan setiap kamera digital yang rusak akan dikirim ke luar negeri seperti Singapura dan Jepang. “Makanya, banyak konsumen di Indonesia yang mengeluh masalah waktu pengerjaan, sementara untuk handphone sudah banyak penjual handphone yang sanggup melayani perbaikan kerusakan,” jelas Hendro .
Achmad Junaedy, staf CRO Oktagon lain menambah, soal respon terhadap kerusakan, Canon dan Sony tergolong yang paling cepat. Edi – sapaan karib Achmad Junaedy – sempat mengikuti pembekalan seluk beluk kamera digital oleh Sony.
Makin Murah
Angka penjualan kamera digital kini sudah mulai menggeser penjualan kamera analog bahkan di kelas profesional pun kamera konvensional juga sudah tergeser. Untuk kamera profesional, menurut Hendro dan Edi, pergeseran ke digital bahkan sudah mencapai 50 persen lebih. Demikian pula untuk kelas di bawahnya karena kamera digital berharga murah sudah banyak diluncurkan.
Setiap produsen kamera digital saat ini mengeluarkan tipe untuk pemula dengan harga murah. Jadi boleh dikatakan saat ini persaingan yang paling ketat berada di pasar kelas bawah. Dua merek kamera digital: Olympus dan Canon - menurut pandangan Hendro paling ‘serius’ menggarap pasar kelas menengah bawah. Produk Olympus paling murah harga Rp 1,3 juta, sedangkan Canon Rp 1,85 juta.
Namun demikian bukan berarti kamera digital akan benar-benar menghabisi riwayat kamera biasa. Kamera konvensional tetap mengungguli kamera digital dalam hal warna dan kualitas cetak, sementara kamera digital sangat terbatas dalam hal besaran pixel. Seperti kamera digital dua megapixel hanya mampu mencetak di kertas ukuran 3R.
“Rata-rata dalam satu bulan Oktagon mampu menjual lebih dari 15 kamera digital kelas menengah bawah. Tapi memasuki masa kampanye pemilu, pembeli memang agak berkurang,” tutur Edi.
Merek-merek elektronik terkemuka seperti Sony dan Panasonic yang belakangan ini gencar memasarkan kamera digital, membuat pasar semakin ramai. Sony bahkan menawarkan teknologi yang lebih canggih seperti fiturnya yang beragam. Belum lagi didukung lensa Carl Zeiss. Merek lensa asal Jerman ini memang sudah diakui keberadaannya sebagai produk jempolan.
Konsumen yang sudah mempercayai kualitas produk-produk eletronik dari Sony banyak yang menganggap kamera digital Sony pastilah demikian dan terbukti memang kualitas kamera digital Sony tidak diragukan.
Menurut Edi, kamera digital dari Korea Selatan seperti Samsung gaungnya kurang terdengar dibanding pabrikan elektronik. Kendati demikian, sang produsen terus melakukan perbaikan pada produk kamera digitalnya. Perubahan itu dapat dilihat pada kualitas lensa dan memperbanyak fitur. “Hanya sebagian produknya belum ma-suk ke Indonesia,” ujar Edi lagi.
Di tahun ini, Hendro dan Edi sama-sama yakin Canon masih memimpin angka penjualan di Indonesia. Terlebih tahun ini Canon sudah mematok rencana akan mengeluarkan kamera digital terbaru untuk pengguna amatir sebanyak 17 item di seluruh dunia, sedang tiga produk baru untuk pengguna profesional. Pilihan pun makin beragam dan tentu harga tambah akrab dengan kantung.
SONY
Bagi para pecinta fotografi, peluncuran 2 mainstream kamera SLR terbaru dari Sony di Indonesia, SLR Digital Alpha A-300 dan SLR Digital Alpha A-350 pastilah merupakan berita yang menggembirakan. Feature unggulan yang diusung oleh kedua kamera ini adalah penggunaan teknologi “QUICK AF LIVE” View System. Teknologi “QUICK AF LIVE” View System ini mengijinkan pengambilan frame gambar pada LCD Camera tanpa mengorbankan kecepatan auto-focus yang sering terjadi pada live-view systems yang lain. Kedua jenis camera terbaru Sony ini, baik SLR Digital Alpha A-300 maupun SLR Digital Alpha A-350 memungkinkan perekaman seluruh gerakan objek yang dapat terlihat secara langsung tanpa adanya jeda waktu.
Kedua mainstream terbaru Sony ini, baik SLR Digital Alpha A-300 maupun SLR Digital Alpha A-350, mampu menghasilkan gambar dengan detail yang tajam dan ‘kaya’ akan warna sehingga nampak cemerlang. Hal ini merupakan pengaruh penggunaan sensor gambar APS-C CCD dan BIONZ® processing engine. Untuk membantu pengambilan gambar dengan tingkat cahaya yang rendah, tersedia Super SteadyShot® image stabilization yang memungkinkan shutter speeds 2.5 hingga 3.5 langkah lebih lambat dari yang dimungkinkan.
Untuk jenis camera model DSLR-A300 (10 megapixel) dilengkapi dengan kit DT 18-70mm f3.5-5.6 standart zoom lens. Model DSLR-A300 ini menurut rencana akan dipasarkan dengan harga USD 800. Sedangkan untuk jenis camera model DSLR-A350 (14 megapixel) dengan kit DT 18-70mm f3.5-5.6 3.9x zoom lens akan dipasarkan dengan harga $900.